Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatun Nufus -1 Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatun Nufus - 1

Manhaj Para Nabi dalam Tazkiyatun Nufus - 1


-----------------------------------------------------------
Ringkasan Transkrip Audio
Minhajul Anbiya fi Tazkiyaun Nufus
Oleh: Ustadz Mubarak Bamualim, Lc.
Sumber audio: www.assunnah.mine.nu
------------------------------------------------------------


Pendahuluan

Ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tazkiyatun nafsi atau tazkiyatun nufus. Ketahuilah bahwasanya tazkiyatun nafsi atau tazkiyatun nufus memberisihkan jiwa, hati dan batin seseorang, ini merupakan hal yang amat penting, merupakan hal yang menjadi misi para nabi dan misi para rasul ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus mereka ke muka bumi ini. Diantara misi mereka adalah untuk mengajak manusia membersihkan jiwa-jiwa mereka, hati-hati mereka, dari kesyirikan kepada tauhid, dari kemunafikan kepada keikhlasan. Dari kekufuran kepada iman, dari bid’ah kepada sunnah dan seterusnya. Maka dari itu banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menerangkan tentang tazkiyatun nufus, bahwa misi para rasul alaihimus shalatu was salam, adalah untuk mensucikan jiwa manusia. Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang juga akan dibahas secara panjang lebar pada bab-bab, pada pembicaraan yang akan datang, adalah surah Al-Jumu’ah ayat 2.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الأمِّيِّينَ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,” (QS Al-Jumu’ah [62] : 2)

Nah, ayat ini adalah serbagai bukti terkabulnya doa nabiyullah Ibrahim as tatkala dia memohon kepada Allah azza wa jala dengan doanya

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2] : 129)

Kemudian ayat berikutnya yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim tentang mensucikan jiwa yaitu firman Allah dalam surat Al-Imran ayat yang ke 164, dimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS Al-Imran [3] : 164)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala, tatkala menerangkan firman Allah وَيُزَكِّيهِمْ – mensucikan jiwa-jiwa mereka – beliau mengatakan: “Rasul itu memerintahkan mereka kepada yang ma’ruf dan mencegah mereka dari kemungkaran, agar menjadi suci jiwa-jiwa mereka, dan agar menjadi bersih dari noda-noda kotoran yang dahulunya mereka tercemar dengan kotoran-kotoran dan noda-noda itu, tatkala mereka dalam keadaan kesyirikan dan kejahilan mereka.”

Ayat yang ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2] : 151)

Kata Al-Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini beliau mengatakan وَيُزَكِّيكُمْ dan Dia mensucikan diri-diri kamu sekalian – artinya Dia mensucikan kamu dari akhlak-akhlak yang bejat dan dari kotoran-kotoran jiwa, dan pekerjaan atau perbuatan-perbuatan jahiliyah, dan Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang.

Inilah diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang pensucian jiwa, pensucian hati yang diutusnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Adapun dari hadits-hadits nabi alaihis shalatu was salam, maka banyak hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang mengajarkan kepada kita tentang pensucian jiwa, pensucian diri. Diantaranya sebuah doa yang diajarkan Rasulullah sallallahu alaihi wassalatu wassalam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tatkala beliau berdoa:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا

“Ya Allah berikanlah kepada diriku akan ketakwaannya dan sucikanlah dia Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya Engkaulah yang melindunginya dan yang memeliharanya.” (HR Muslim, Ahmad, An-Nasa’i)

Kemudian banyak diantara doa-doa kita pula untuk mensucikan diri kita yang diajarkan oleh Nabi alaihi shalatu was salam, seperti:

اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Ya Allah bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dosa-dosaku dari air salju dan embun dan sucikanlah hatiku dari kesalahan-kesalahan sebagaiamana engkau mensucikan pakaian yang putih dari noda. Dan jauhkanlah aku antara aku dan dosa-dosaku sebagaimana Engkau telah menjauhkan jarak antara timur dan barat.” (HR Muslim)

Ini diantara doa-doa yang diajarkan untuk mensucikan diri dari dosa, dari perbuatan-perbuatan yang mengotori jiwa manusia itu. Maka dari itu semua amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang itu akan mensucikan jiwanya. Dan setiap amal kejelekan yang dilakukan oleh seseorang, itu akan merusak jiwanya, akan mengotori hatinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tatkala mensyariatkan ibadah, baik itu shalat, baik itu puasa, baik itu zakat, dan lain-lainnya, semuanya itu dalam upaya untuk mensucikan diri manusia, membersihkan diri mereka. Karena dengan ketaatan-ketaatan itu jiwa seseorang akan menjadi bersih dari kotoran-kotorannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah ayat yang ke 103 tentang zakat, tatkala Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,” (QS At-Taubah [9] : 103)

Kemudian juga hadits yang lain - dalam suatu hadits yang shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: ashalawtul khamsu wal jumuatu ilal jumuati wa Ramadhan ila Ramadhan dst
“Sahalat yang lima (yang wajib) dan dari shalat Jum’at ke Jum’at yang berikutnya, dan dari puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan yang berikutnya (semuanya itu) merupakan penghapus-penghapus dosa yang membersihkan manusia diantara itu semuanya, apabila dosa-dosa besar dijauhi.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an menerangkan tentang puasa

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS Al-Baqarah [2] : 183)

Dan taqwa adalah pembersihan jiwa dengan ketaqwaan kepada Allah azza wa jala.

Kemudian dengan memerintahkan kepada seluruh manusia Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah [2] : 21)

Maka inilah diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang tazkiyatun nufus. Dan bahwasanya Allah telah menciptakan dalam diri seorang manusia dua kekuatan: Kekuatan untuk bertakwa dan kekuatan untuk yang mungkar. Makanya Allah berfirman dalam surat Asy-Syams:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Jadi manusia mempunyai dua pontensi. Potensi untuk menjadi baik dan potensi untuk menjadi jelek. Tergantung bagaimana manusia itu, dimana tinggalnya, bagaimana lingkungannya, makanan-makanan apa saja yang didapat orang itu, oleh jiwanya, maka semua itu akan membentuk seseorang. Kemudian Allah mengatakan (dalam surat Asy-Syams : 9-10):

قَدْْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Beruntung orang-orang yang membersihkan jiwanya, membersihkan dirinya,

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Maka kata para ulama: ‘setiap amal ketaatan itu akan mensucikan diri seseorang, dan setiap kemaksiatan itu akan mengotori jiwa seseorang. Maka barangsiapa yang mengamalkan ketaatan-ketaatan berarti dia telah mensucikan dirinya, dan barangsiapa yang melakukan suatu kemaksiatan berarti dia telah mengotori jiwanya’.

....bersambung insya Allah, pada pembahasan point-point penting yang terkadung dalam kitab "Minhajul Anbiya fi Tazkiyatun Nufus karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali yang dibahas dalam kajian ini


Sumber : http://khayla.blogspot.com/2008/03/manhaj-para-nabi-dalam-tazkiyatunnufus.html

MENUNGGU KEBERANIAN GOLONGAN AHMADINAH

MENUNGGU KEBERANIAN GOLONGAN AHMADINAH

MENUNGGU KEBERANIAN GOLONGAN AHMADINAH


Oleh : Ustadz Qomar Minhal

Problematika yang timbul dari keberadaan penganut ajaran Ahmadiyah di tengah kaum muslimin tetap saja akan mencuat. Seiring dengan agresivitas golongan yang pertama kali muncul di daratan India itu dalam menyebarluaskan pemahaman-pemahaman si Nabi Palsu, antek penjajah Inggris.Sebagian orang meyakini kalau Ahmadiyah hanya sekedar firqoh (golongan sempalan) dalam Islam. Sebuah golongan yang mempunyai furu (dalam masalah fikih misalnya) yang berbeda dari golongan lainnya. Tidak ada titik perbedaan selain ini. Pendapat demikian ini dipatahkan oleh Syaikh Ihsan llahi Zhahir . Dalam keterangan beliau, seorang muslim hendaknya tahu betapa besar kesalahan asumsi di atas. Pasalnya, golongan yang juga dikenal nama Qadiyaniah tidak mempunyai hubungan apapun dengan Islam. Hanya saja mereka mengenakan baju Islam untuk mengecoh kaum muslimin.2 Berikut ini 2 (dua) fakta dari kitab-kitab mereka yang menguatkan kesimpulan tersebut, baik tulisan maupun pernyataan sang Nabi Palsu atau para penerus aqidah sesatnya. Wallahul Hadi3 Seorang Muslim Adalah Orang Kafir .

Sebelum Memeluk Agama Ahmadiyah


Keterangan di atas tidak mengada-ada. Bila seorang muslim meninggal, maka tidak akan disholati oleh Ahmadiyyun, juga tidak boleh dikuburkan di pemakaman mereka. Selain itu pula, pernikahan antara seorang lelaki yang menganut agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad ^ dengan wanita penganut ajaran Nabi Palsu Mirza Ghulam Ahmad (semoga memperoleh hukuman setimpal dari Allah ®& ) tidak boleh terjadi. Karena ia dalam pandangan 'Nabi' Ghulam Ahmad sudah kafir. Berikut ini penuturan dan pernyataannya: "Orang yang tidak beriman kepadaku, berarti ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya". 4

Putranya yang meneruskan kedustaan sang ayah, Mahmud Ahmad menguatkan: "Seorang lelaki menemuiku di sebuah wilayah. la menanyakan mengenai berita yang telah beredar bahwa kalian mengkafirkan kaum muslimin yang tidak menganut agama Ahmadiyah. Apakah itu memang benar. Maka saya menjawab, lya. Tidak diragukan lagi. Kami memang mengkafirkan kalian". Maka lelaki tersebut merasa aneh dan kaget". 5

Anaknya yang lain, BasyTr Ahmad dengan tanpa malu-malu mengatakan: "Setiap orang yang beriman kepada Musa, tapi tidak beriman kepada Isa: , juga tidak beriman kepada Muhammad, maka dia kafir. Begitu pula orang yang tidak beriman kepada Ghulam Ahmad maka dia kafir juga, telah keluar dari Islam. Kami tidak mengatakan ini dari diri kami sendiri. Namun kami mengutip dari Kitabullah "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya.."(Qs. an-Nisa/ 4:151) (Kalimatul Fas/7/, BasyTr Ahmad bin Nabi Palsu).

Di sini bisa dilihat, bagaimana ia tak lupa mencatut dan membajak ayat al-Qur'an kepentingan golongannya yang lebih pantas disebut agama baru Ahmadiyah. Putra Ghulam pernah juga mengutip pernyataan Nuruddin, pengganti Ghulam yang pertama (Khalifah Ahmadiyah yang pertama setelah kebinasaan Nabi Palsu mereka) : "Sesungguhnya kaum muslimin selain penganut ajaran Qadiyaniah (Ahmadiyah) masuk dalam kandungan firman Allah : "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benamya". Kemudian ia membubuhkan catatan (ta'liq) setelah perkataan di atas, bunyinya: "Bagaimana mungkin orang yang mengingkari Musa 5$&jfe menjadi kafir dan terlaknat, yang mengingkari Isa juga kafir, sementara orang yang mengingkari Ghulam Ahmad tidak kafir. Padahal perkataan kaum mukminin adalah "Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya,". Sementara mereka itu membedakan sikap terhadap para rasul. Oleh karena itu, orang yang mengingkari Ghulam Ahmad pasti orang kafir dan masuk dalam firman Allah : "Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya" (Kalimatul Fashl, BasyTr Ahmad hal. 120, 174).

Dalam kitab an-Nubuwwah Fil llham, hasil karya salah satu ulama Ahmadiyah termaktub: "Sesungguhnya Allah & berkata kepadanya (Si Nabi Palsu): "Orang yang mencintai-Ku dan menaati-Ku, wajib atas dirinya mengikutimu dan beriman kepadamu. Kalau tidak, ia belum mencintai-Ku. Bahkan sebaliknya, ia adalah musuh-Ku. Apabila para pengingkar menolak ini, atau bahkan mendustakanmu dan menyakitimu, maka Kami akan membalas mereka dengan balasan yang buruk, dan Kami persiapkan bagi orang-orang kafir itu Jahannam sebagai penjara bagi mereka". Lalu penulis berkomentar mengenai ilham di atas,'bahwa Allah & telah menjelaskan di sini bahwa orang yang mengingkari Ghulam adalah orang kafir dan balasannya Jahannam". (an-Nubuwwah Wal llham, Muhammad Yusuf al-Qadiyani hal. 40).

Demikian cuplikan aqidah mereka tentang kaum muslimin melalui tulisan-tulisan sang Nabi palsu, keturunan dan tokoh agama mereka. Masih banyak aqidah buruk mereka yang lain, yang kian menegaskan kesimpulan di awal tulisan ini bahwa mereka bukan kaum muslimin lagi. Jadi, tinggal menunggu keberanian mereka untuk menyatakan dengan lantang dan keras bahwa mereka bukan kaum muslimin.

Dengan ini tensi permusuhan kaum muslimin dengan mereka (mungkin) sedikit
banyak akan mereda.[6] Terpaksa Sholat Dengan Kaum Muslimin Karena Takut Terbongkar Jati Dirinya Bukan Muslim

Karena vonis kafir yang mereka arahkan kepada kaum Muslimin, maka mereka tidak memperbolehkan sholat di belakang seorang muslim. Mesti dipastikan terlebih dahulu bahwa sang imam adalah juga penganut agama Ahmadiyah, sebelum mereka ikut serta dalam suatu sholat jamaah. Seandainya mereka ikut serta dalam sholat berjamaah dengan kaum muslimin, itu mereka lakukan sekedar untuk menutupi topeng mereka. Lantas mereka akan mengulangi sholat (ala mereka) di rumah.

Sang Nabi Palsu berkata: "Inilah (keterangan di atas) adalah madzhabku yang sudah jelas. yakni, tidak boleh bagi kalian untuk sholat di belakang selain penganut Ahmadiyah. Dalam kondisi apapun, siapapun imamnya, walaupun nanti memperoleh pujian dari orang-orang. Inilah hukum Allah dan kehendak Allah (?). Orang yang ragu dan sangsi tentang ini termasuk dalam hitungan kaum yang mendustakan. Allah ingin membedakan kalian dari orang lain (Malfuzhat al-Ghulam/pernyataan-pernyataan Ghulam yang diterbitkan di Majalah al-Hikam milik Ahmadiyah) tanggal 10 Desember 1904 M).

Dalam kitab Arbain miliknya (hal 34-35), si Nabi palsu berkata: "Sesungguhnya Allah &. telah memberiku berita bahwa Dia secara qath'i mengharamkan untuk sholat di belakang orang yang mendustakanku atau ragu untuk taat kepadaku. Kewajiban kalian adalah mengerjakan sholat di belakang imam-imam kalian... kerjakan apa yang saya perintahkan. Apakah kalian ingin amalan kalian terhapus tanpa kalian sadari?".

Si anak pun tak mau kalah. Dalam masalah yang sama, ia menetapkan: "Tidak boleh sholat di belakang selain penganut Ahmadiyah. Orang-orang terus saja bertanya tentang ini, apakah boleh seorang penganut Ahmadiyah sholat di belakang orang yang bukan Ahmadiyah?. Saya katakan meski terus kalian bertanya tentang ini kepadaku, maka jawabnya Sesungguhnya tidak boleh penganut ajaran Ahmadiyah sholat di belangan orang yang bukan menganut (agama) Ahmadiyah, tidak boleh, tidak boleh".Fakta sejarah lain, dengan aktor Khalifah kedua Ahmadiyah, putra Nabi Palsu, Mahmud Ahmad. Dia sedang mengisahkan perjalanan hajinya ke Mekkah. 7 Katanya: "Saya pergi tahun 1912 M ke Mesir. Dari sana kemudian saya berangkat naik haji. Di Jedah, kakek dari ibu menemuiku. Lantas, kami bersama-sama pergi ke Mekkah. Di hari pertama, saat kami thowaf, waktu sholat datang. Saya berniat keluar (dari Masjidil Haram, red). Namun, jalan keluar sudah terhalangi karenanya kondisi sangat padat dengan jamaah sholat. Selanjutnya, saya akhirnya sholat. Kakekku menyuruh aku untuk sholat. Kami pun sholat. Ketika sampai di rumah, kami kemudian saling berkata: "Ayo, kita kerjakan sholat lagi karena Allah. Sholat tidak bisa dilaksanakan dan tidak diterima bila dikerjakan di belakang imam yang bukan penganut Ahmadiyah... "(?!)8

Fakta sejarah lain, dengan aktor Khalifah kedua Ahmadiyah, putra Nabi Palsu, Mahmud Ahmad. Dia sedang mengisahkan perjalanan hajinya ke Mekkah. 7 Katanya: "Saya pergi tahun 1912 M ke Mesir. Dari sana kemudian saya berangkat naik haji. Di Jedah, kakek dari ibu menemuiku. Lantas, kami bersama-sama pergi ke Mekkah. Di hari pertama, saat kami thowaf, waktu sholat datang. Saya berniat keluar (dari Masjidil Haram, red). Namun, jalan keluar sudah terhalangi karenanya kondisi sangat padat dengan jamaah sholat. Selanjutnya, saya akhirnya sholat. Kakekku menyuruh aku untuk sholat. Kami pun sholat. Ketika sampai di rumah, kami kemudian saling berkata: "Ayo, kita kerjakan sholat lagi karena Allah. Sholat tidak bisa dilaksanakan dan tidak diterima bila dikerjakan di belakang imam yang bukan penganut Ahmadiyah... "(?!)8

muslimin ataupun menyolati kaum muslimin (di luar jamaah Ahmadiyah). Karenanya, ketika pendiri Negara Pakistan meninggal, Muhammad AN Jinah $fe , sang menteri luar negeri pada zaman itu yang bernama Zhafrullah Khan tidak menyolati beliau. Sebabnya sangat jelas. Karena Muhammad Ali Jinah $K menurutpandangannya telah kafir lantaran memegangi petunjuk Muhammad dan membebaskan umat Islam dari cakar-cakar penjajah..."9

Penutup


Perkembangan ajaran Ahmadiyah harus diwaspadai setiap muslim. Sebab, hakikatnya merupakan usaha permurtadan. Hingga tidak boleh dilihat dengan sebelah mata. Tatkala mereka mengalami kegagalan dalam mendakwahkan agama Ahmadiyah di daratan India, mereka membidik benua Eropa dan Afrika. Dan ternyata 'lebih berhasil' dalam memurtadkan kaum muslimin. Pasalnya, dalam kurun waktu 70 tahun sejak pertama kali dideklarasikan dan dengan dukungan penuh dari kaum kolonialis, jumlah penganut Ahmadiyah India hanya berkisar pada angka ribuan. Padahal, Jawaharlal Nehru, saat menjabat PM India juga mendukung gerakan permurtadan ini. Karena kaum muslimin di sana mengetahui hakikat busuk Ahmadiyah. Akan tetapi, di benua Afrika dan Eropa, dalam rentang waktu 15 tahun saja, penganut Ahmadiyah berjumlah jutaan. Kata Syaikh Ihsan, penyebabnya ialah, pada waktu itu jumlah dai Islam di sana tidak banyak10.

Sebagai penutup, kami kutipkan pesan beliau kepada umat Islam: "Usaha untuk melawan Ahmadiyah guna menghentikan ancamannya sudah menjadi kewajiban dalam Islam, politik dan secara individual. Dari kaca mata agama, karena telah mengobrak-abrik ajaran Islam dan menghancurkan rukun-rukunnya. Adapun dari sudut politis, lantaran Ahmadiyah merupakan kepanjangan tangan kekuasaan kolonialis di setiap distrik yang ditempati. Dan, secara individu, telah dilakukan oleh DR. Muhammad Iqbal yang menyanggah pernyataan PM Jawaharlal Nehru yang mendukung ajaran agama Ahmadiyah".

Semoga Allah melindungi kaum muslimin dari segala fitnah, yang tampak maupun tersembunyi. Wallahul a'lam.


Catatan Kaki
Diangkat dari al-Qadiyaniyah, Dirasat Wa Tahiti karya Syaikh IhsSn llahi Zhahir (1941-1987), Idarah Turjumanis Sunnah Lahore
Pakistan tanpa tahun, hal 37-42 al-Qadiyaniyah, Dirasat Wa Tahl/l hal. 37 Topik tentang Ahmadiyah dan Mirza Ghulam Ahmad pernah diangkat dari sudut yang berbeda dari tulisan di atas pada Majalah
as-Sunnah Edisi Khusus Tahun IX (1426H-2005M) Diterbitkan dalam Hazharatul Islam edisi V tahun 1386 H.
Kami tidak sedang ikut serta dalam memprovokasi umat untuk menggayang Ahmadiyah yang eksis di tanah air. Karena, tindakan nahi mungkar mesti memenuhi kaidah-kaidah syariat yang sudah baku. Tidak ditempuh dengan cara-cara serampangan, destruktif dan kekerasan atas dasar emosi atau perasaan belaka
Pada gilirannya, penganut Ahmadiyah dilarang memasuki kota suci Mekkah. Karena mereka telah kafir. Red).
Nukilan dari al-Qadiyaniyah hal. 39-40
al-Qadiyaniyah hal. 42
al-Qadiyaniyah hal. 21-22


Sumber : Majalah As-Sunnah Edisih Bulan November 2008

 

Pengikut